Match Between System and The Real World - wondershoe.com

Ini adalah prinsip kedua dari 10 usability heuristics oleh Jakob Nielsen.
Sistem haruslah dibuat dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pengguna, dengan kata-kata, frase dan konsep yang familiar bagi pengguna.
Ketika mengembangkan sistem tidak harus membuat istilah untuk konsep dapat dilihat oleh pengguna dalam aplikasi, tetapi dapat menggunakan istilah bahwa komunitas pengguna yang melakukan tugas-tugas ini sudah menggunakannya. Dianjurkan untuk tidak menciptakan kosa kata baru seperti ini akan asing bagi pengguna dan akan meminta mereka untuk mempelajari nama-nama baru, sehingga membuat mereka semakin sulit.
Misalnya, ketika membangun aplikasi bisnis untuk melacak waktu untuk orang yang bekerja pada sebuah proyek, jika objek yang digunakan untuk melacak mereka disebut "Item", "Sub-Item" dan "Jam" dalam model data, tetapi jika pengguna bisnis sudah familiar dengan istilah "Project", "Tugas" dan "Upaya" masing-masing, maka itulah cara terbaik untuk merujuk mereka dalam aplikasi. Menggunakan istilah "Sub-Item" akan membutuhkan pengguna untuk mengetahui bahwa itu benar-benar berarti "Task" kepada mereka. Hal ini menyebabkan pengguna untuk menggunakan metode decoding mental yang lebih sadar menyebabkan penurunan produktivitas.

Problem

Pada website ini terdapat permasalahan sesuai dengan prinsip ini.
Permasalahan pertama terdapat pada pencarian data yang disediakan pada halaman website. Permasalahan terjadi ketika data yang kita cari tidak ditemukan, pesan yang diberikan masih sulit dipahami oleh pengguna, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.


sepeti terlihat di atas, bahwa informasi untuk sepatu yang dicari tidak ditemukan, akan tetapi informasi yang diberikan tidak menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pengguna, sehingga pengguna merasa kebingungan saat akan mencari sepatu yang dia inginkan, apakah sepatu yang dia cari ada atau tidak.

Permasalahan kedua adalah pada penggunaan bahasa yang diterapkan pada website ini masih tercampur antara bahasa indonesia dan inggirs.


Dengan penggunaan bahasa yang tercampur seperti ini pengguna yang berasal dari indonesia ataupun luar indonesia akan kebingungan dalam memahami informasi yang diberikan pada website ini.

Implementing 'Match Between System and The Real World'

Solusi dari permasalahan ini untuk mengimplementasikan prinsip kedua dari 10 usability heuristics oleh Jakob Nielsen :
Pada kasus pertama, pencarian yang tidak ditemukan pada kasus diatas seharusnya, pada saat sepatu yang dicari tidak ditemukan informasi yang ditampilkan seperti "Sepatu yang anda cari tidak ditemukan" sehingga pengguna mengeri bahwa sepatu yang dicari tidak ditemukan. Sebenarnya ini sudah diterapkan pada beberapa halaman seperti halaman utama dan pada menu shop, akan tetapi saya masih menemukan kesalahan tersebut pada saat saya melakukan searching pada halaman how to shop, how to measure, halaman detail sepatu dll.

Pada kasus kedua, seharusnya penggunaan bahasa harus konsisten sesuai dengan penggunaan bahasa yang semestinya, dengan kondisi ini bisa menggunakan multilanguage sehingga pengguna bisa memilih apakah menggunakan bahasa indonesia atau inggris.

Severity Ratings

Berikut ini adalah Severity Ratings untuk mengukur seberapa penting perubahan yang harus dilakukan terhadap permasalahan diatas. Berikut adalah beberapa kondisi Severity Ratings (Nielsen 1995) :
  • 0 = Saya tidak setuju bahwa ini adalah masalah kegunaan sama sekali.
  • 1 = Cosmetic problem only: tidak perlu diperbaiki kecuali waktu tambahan tersedia pada proyek.
  • 2 = Minor usability problem: memperbaiki ini harus diberikan perioritas yang rendah.
  • 3 = Major usability problem: penting untuk memperbaiki, sehingga harus diberikan perioritas tinggi.
  • 4 = Usability catastrophe: penting memperbaiki ini sebelum produk bisa dilepaskan.
Untuk kasus ini Severity Ratings : 4

Other Scenarios

Berikut ini adalah konsep lain 'Match Between System and The Real World' yang dapat diterapkan agar website yang dibuat sesuai dengan prinsip ini.
  1. Gunakan bahasa pengguna (disesuaikan dengan persona, seperti penggunaan bahasa yang lebih kekanak-kanakan jika target pengguna adalah anak-anak, gunakan bahasa yang lebih formal jika target pengguna adalah orang dewasa, gunakan bahasa inggris jika target pengguna adalah umum/semua negara, dll).
  2. Gunakan istilah yang mirip dengan bahasa alami.
  3. Metafora dari dunia nyata.
  4. Menggunakan model konseptual familiar pengguna.
  5. Penggunaan sesuaikan dengan pengetahuan latar belakang pengguna (penggunaan istilah untuk orang yang berlatar belakang bekerja di bagian akutansi berbeda dengan orang yang berlatar belakar bekerja sebagai bisnis).
  6. Ikuti konvensi dunia nyata.

Komentar